Keputusan Asian Football Confederation (AFC) untuk menolak rencana investasi Piala Dunia yang diajukan FIFA kembali memicu ketegangan di internal organisasi sepak bola dunia. Seorang penasihat senior Gianni Infantino dikabarkan mengundurkan diri menyusul sikap tegas AFC yang menyatakan solidaritas dengan UEFA dan Concacaf.
Penolakan ini muncul setelah FIFA mengusulkan skema pendanaan baru yang dianggap beberapa konfederasi berpotensi mengganggu keseimbangan distribusi keuntungan turnamen. AFC menilai proposal tersebut kurang adil bagi negara-negara Asia yang selama ini berkontribusi besar terhadap pertumbuhan sepak bola global.
Dalam beberapa tahun terakhir, FIFA memang gencar mencari sumber pendanaan tambahan untuk mendukung ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim. Namun langkah ini menuai kritik karena dianggap terlalu berorientasi pada keuntungan finansial jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi federasi anggota.
Salah satu analisis yang muncul adalah bahwa penolakan bersama dari tiga konfederasi besar ini bisa memperlambat proses persetujuan anggaran FIFA di kongres mendatang. Jika AFC, UEFA, dan Concacaf terus bersatu, Infantino mungkin harus merevisi ulang proposalnya agar lebih inklusif.
Selain itu, mundurnya penasihat senior ini juga menunjukkan adanya ketidakpuasan internal di markas FIFA. Beberapa pihak menilai komunikasi antara presiden FIFA dengan konfederasi regional masih kurang efektif, terutama dalam isu-isu sensitif seperti pembagian revenue.
Dampaknya terhadap persiapan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara juga patut diwaspadai. Ketidakpastian pendanaan bisa memengaruhi rencana infrastruktur dan program pengembangan sepak bola di negara-negara Asia yang sedang naik daun.
Meski begitu, AFC tetap menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan FIFA selama proposal yang diajukan lebih transparan dan menguntungkan semua pihak. Solidaritas yang terbentuk ini menjadi sinyal bahwa konfederasi regional kini lebih berani menyuarakan kepentingan mereka.
Ke depan, bagaimana Infantino akan merespons situasi ini menjadi perhatian utama. Revisi proposal atau pendekatan diplomasi yang lebih intensif mungkin diperlukan untuk meredam ketegangan sebelum kongres FIFA berikutnya.
